Duka di Wontong, Keajaiban di Kalo: Langkah Kaki Bupati Edi Endi yang Menjemput Pulang Armedo

TIWU PAI, REOK BARAT – Suasana di Wontong, Desa Toe, Senin (19/01/2026) siang itu begitu mencekam oleh kabut kesedihan. Isak tangis pecah di kediaman keluarga besar Armedo, bocah malang yang beberapa waktu lalu dinyatakan hilang tertelan derasnya arus di Tiwu Pai. Di tengah keputusasaan keluarga, hadir sosok Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, yang datang membawa simpati melintasi batas wilayah administratif demi kemanusiaan.

​Kedatangan Bupati yang akrab disapa Edi Endi ini semula diniatkan sebagai kunjungan duka. Beliau datang untuk memeluk erat pundak orang tua Armedo yang mulai rapuh oleh air mata, memberikan doa, serta menguatkan hati keluarga bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi badai ini.

Momen Haru di Tengah Ratapan

​Di bawah atap rumah yang dilingkupi aroma duka, Bupati Edi Endi tertunduk khidmat, ikut merasakan pedihnya kehilangan seorang anak. Kata-kata penghiburan mengalir, mencoba membasuh luka yang begitu menganga. Namun, sejarah nampaknya menuliskan cerita lain yang tak terduga hari itu.

​”Kami datang untuk berduka, namun Tuhan seolah mendengar rintihan hati yang paling dalam tepat saat kami berada di sini,” ungkap salah satu warga yang berada di lokasi.

Keajaiban yang Menembus Logika

​Seolah menjadi sebuah keajaiban yang dipicu oleh ketulusan doa, tepat di hari kunjungan Bupati Mabar, sebuah kabar mengejutkan membelah suasana duka. Kabar itu datang bak petir di siang bolong, namun membawa kesejukan: Jasad adik Armedo telah ditemukan.

​Tubuh mungil yang selama ini dicari dengan sisa-sisa harapan itu ditemukan di Kampung Kalo, Kecamatan Reok Barat. Banyak warga yang tertegun, mengaitkan momen penemuan ini dengan kehadiran sang Bupati. Entah kekuatan doa apa yang dibawa, namun kehadiran rombongan Edi Endi hari itu seolah menjadi “pembuka jalan” pulangnya Armedo ke pangkuan keluarga, meskipun dalam pelukan keabadian.

Kepulangan yang Menyesakkan Dada

​Kini, tangis duka di Wontong berubah menjadi tangis histeris penjemputan. Tidak ada lagi tanda tanya, yang ada hanyalah kenyataan pahit bahwa Armedo telah benar-benar pergi. Meski demikian, ada rasa syukur yang menyesakkan; setidaknya keluarga kini memiliki tempat untuk mengadu rindu di pusara, bukan lagi mencari di luasnya air yang tak bertepi.

​Kunjungan ini bukan lagi sekadar kunjungan pejabat kepada warga, melainkan saksi bisu sebuah peristiwa kemanusiaan yang tak terlupakan di Reok Barat. Armedo telah ditemukan, tepat saat doa-doa dipanjatkan bersama di ruang tamu rumahnya.

Selamat jalan, Adik Armedo. Damailah di keabadian.

RELATED POSTS