STASI PUSUT, MANGGARAI BARAT – Suasana perayaan Paskah 2026 di Gereja Stasi Pusut, Paroki Rekas, terasa berbeda dan penuh warna. Kehadiran Ali Sehidun, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat sekaligus Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Manggarai Barat, memberikan sebuah potret nyata tentang betapa indahnya keberagaman yang terjalin erat di bumi Labuan Bajo dan sekitarnya.
Kehadiran sosok pemimpin muslim di tengah sukacita umat Kristiani ini bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan sebuah simfoni toleransi yang menggetarkan hati.
Keindahan dalam Perbedaan
Dalam sapaannya yang penuh kehangatan, Ali Sehidun mengibaratkan kehidupan bermasyarakat di Manggarai Barat seperti pelangi. Beliau menegaskan bahwa kekuatan daerah ini justru terletak pada warna-warni perbedaan yang ada.
”Pelangi itu indah karena ia terdiri dari berbagai warna yang berbeda namun menyatu dalam satu busur yang sama. Begitu pula dengan kita; perbedaan adalah keindahan yang menyejukkan hati dan memperkaya jiwa,” ungkap Ali Sehidun.
Membangun ‘Bait’ di Dalam Hati
Sebagai wakil rakyat, Ali Sehidun membawa pesan reflektif yang mendalam. Baginya, kemajuan sebuah daerah tidak boleh hanya diukur dari kokohnya aspal atau megahnya gedung-gedung pemerintah. Ada fondasi yang jauh lebih vital, yaitu Pembangunan Iman.
Ia menekankan bahwa:
- Kesejahteraan Sejati: Berawal dari hati yang damai dan jiwa yang taat kepada Tuhan.
- Harmoni Sosial: Tercipta ketika setiap individu memiliki akar iman yang kuat, sehingga mampu memancarkan kasih kepada sesama.
- Kerukunan: Merupakan buah dari spiritualitas yang matang, yang melihat sesama manusia sebagai saudara.
Harapan dan Doa Paskah
Menutup kehadirannya yang penuh makna tersebut, Ali Sehidun menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat yang merayakan.
”Selamat Hari Raya Paskah 2026. Semoga Paskah kali ini memberikan kekuatan baru dan keberkahan yang melimpah bagi kita semua. Saya meyakini bahwa pembangunan iman adalah kunci utama menuju masyarakat yang sejahtera, harmonis, dan rukun,” pungkasnya.
Momen di Stasi Pusut ini menjadi bukti bahwa di Manggarai Barat, toleransi bukan lagi sekadar jargon, melainkan nafas kehidupan. Kehadiran Ali Sehidun mengingatkan kita semua bahwa meski jalan yang kita tempuh menuju Tuhan berbeda, kita tetap berpijak di tanah yang sama dengan tujuan yang mulia: Kemanusiaan dan Kedamaian.